• Portal Akademik
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Pusat Studi Bencana
  • Profil
    • Tentang PSBA
    • Struktur Organisasi
    • Visi dan Misi
  • Kegiatan
    • Penelitian Tahun 2010
    • Penelitian Tahun 2011
    • Penelitian Tahun 2012
    • Penelitian Tahun 2013
    • Penelitian Tahun 2014
    • Penelitian Tahun 2015
    • Penelitian Tahun 2016
    • Penelitian Tahun 2017
    • Penelitian Tahun 2018
    • Penelitian Tahun 2019
    • Penelitian Tahun 2020
    • Penelitian Tahun 2021
    • Penelitian Tahun 2022
    • Penelitian Tahun 2023
  • E-Learning
    • Lecturer Session: Prof. Christopher Gomez
    • Podcast
    • Opini
  • Kerjasama
    • Kerjasama Dalam Negeri
    • Kerjasama Luar Negeri
  • Library
    • Hasil Pengabdian
    • Hasil Penelitian
  • Publikasi
    • Volcanology
    • Hydrometeorology
    • Seismology
    • Land & Water Conservation
    • Social science and Health
  • Home
  • Rilis Berita

Bermain hingga Identifikasi Bahaya, PSBA UGM Ajak Siswa SD Tumbuh 2 Membangun Budaya Siaga Bencana

  • Rilis Berita
  • 13 July 2026, 10.24
  • By : Admin PSBA

Sebagai bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana sejak usia dini, PSBA UGM menyelenggarakan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana bagi warga SD Tumbuh 2 Yogyakarta pada Jumat (10/7). Kegiatan yang berlangsung di kompleks SD Tumbuh 2, Jogja National Museum, Wirobrajan, Yogyakarta ini diikuti oleh 105 siswa serta 35 guru dan tenaga kependidikan. Pelatihan difokuskan pada pemahaman bencana secara umum dengan penekanan pada mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas permohonan narasumber yang diajukan oleh SD Tumbuh 2 kepada PSBA UGM. Melalui pelatihan ini, sekolah berharap peserta didik tidak hanya memahami konsep kebencanaan, tetapi juga mampu mengenali potensi bahaya di lingkungan sekolah serta mengetahui tindakan yang tepat untuk melindungi diri ketika bencana terjadi.

Tim fasilitator dari PSBA UGM terdiri atas Galih Aries Swastanto, Muhamad Irfan Nurdiansyah dan Ihsan Weda Prabaswara. Ketiganya menghadirkan pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah. Suasana hangat langsung terasa sejak awal kegiatan. Galih Aries Swastanto membuka sesi dengan mengajak seluruh peserta saling berkenalan melalui berbagai permainan sederhana dan bernyanyi bersama. Pendekatan tersebut berhasil mencairkan suasana sekaligus membangun rasa percaya diri anak-anak untuk aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Tawa dan antusiasme peserta memenuhi aula sekolah, menunjukkan bahwa belajar tentang kebencanaan tidak selalu harus berlangsung secara formal dan serius.

Selanjutnya, Muhamad Irfan Nurdiansyah menyampaikan materi mengenai bencana secara umum dengan fokus utama pada gempa bumi. Materi dikemas menggunakan bahasa yang sederhana, ilustrasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta permainan edukatif mengenai proses terjadinya bencana. Melalui permainan tersebut, peserta diajak memahami bahwa bencana tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil pertemuan antara ancaman bahaya dengan kondisi kerentanan yang dimiliki masyarakat. Dengan pendekatan belajar sambil bermain, siswa lebih mudah memahami mengapa kesiapsiagaan menjadi hal yang sangat penting.

Pada sesi berikutnya, Ihsan Weda Prabaswara mendampingi peserta menyaksikan film edukasi mengenai gempa bumi. Setelah pemutaran film selesai, anak-anak diajak berdiskusi dan merefleksikan berbagai peristiwa yang mereka lihat. Mereka mengungkapkan apa yang dirasakan apabila mengalami situasi serupa, tindakan apa yang seharusnya dilakukan, serta pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses refleksi tersebut menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan pemahaman bahwa setiap orang memiliki peran dalam mengurangi risiko bencana.

Setelah memperoleh materi dasar, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai jenjang kelas. Kelompok Lower Class yang terdiri atas siswa kelas 1–2 sebanyak 38 anak didampingi oleh Galih Aries Swastanto di area lantai satu sekolah. Kelompok Middle Class yang terdiri atas siswa kelas 3–4 sebanyak 33 anak didampingi oleh Ihsan Weda Prabaswara melakukan observasi mulai dari lantai satu hingga area lapangan sekolah. Sementara itu, kelompok Upper Class yang terdiri atas siswa kelas 5–6 sebanyak 33 anak bersama Muhamad Irfan Nurdiansyah melakukan identifikasi risiko di lantai dua dan aula sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, setiap kelompok diajak berkeliling lingkungan sekolah untuk melakukan identifikasi risiko bencana secara langsung. Anak-anak mengamati setiap sudut sekolah, mendiskusikan potensi bahaya yang mungkin muncul ketika terjadi gempa bumi, kemudian mencatat hasil pengamatannya pada lembar kerja yang telah disediakan. Pendekatan ini memberikan pengalaman belajar nyata sehingga peserta dapat melihat sendiri hubungan antara kondisi lingkungan dengan potensi risiko yang mungkin terjadi.

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa siswa mampu mengenali berbagai benda yang berpotensi menimbulkan cedera ketika gempa bumi terjadi. Mereka menemukan risiko berupa kaca jendela, lampu gantung, kipas angin, lemari yang belum dipasang pengaman, sudut meja yang tajam, instalasi listrik, hingga berbagai benda yang dapat jatuh akibat guncangan. Selain itu, anak-anak juga mengamati bahwa sekolah belum memiliki jalur evakuasi yang terpasang secara jelas pada beberapa titik, sehingga hal tersebut menjadi salah satu catatan penting yang perlu ditindaklanjuti dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan sekolah.

Tidak hanya mengidentifikasi potensi bahaya, peserta juga berhasil mengenali berbagai sumber daya yang dapat membantu menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi maupun bencana lainnya. Mereka menyebutkan tas sekolah yang dapat digunakan untuk melindungi kepala dari benda jatuh, kolong meja sebagai tempat berlindung sementara, alat pemadam api ringan (APAR), buku yang dapat digunakan sebagai pelindung kepala, kotak P3K, hingga area terbuka yang dapat dijadikan titik berkumpul setelah proses evakuasi. Melalui proses ini, siswa belajar bahwa lingkungan sekolah tidak hanya memiliki risiko, tetapi juga memiliki berbagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keselamatan.

Seluruh kelompok kemudian kembali berkumpul di aula untuk mempresentasikan hasil identifikasi masing-masing. Setiap kelompok menyampaikan temuan mereka di hadapan teman-teman dan guru. Diskusi berlangsung aktif karena setiap kelompok menemukan potensi bahaya maupun solusi yang berbeda sesuai lokasi pengamatan. Kegiatan ini juga mendorong siswa untuk saling belajar dan memahami bahwa upaya mengurangi risiko bencana memerlukan keterlibatan seluruh warga sekolah.

Pelatihan yang dilaksanakan PSBA UGM ini sejalan dengan implementasi tiga pilar Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), yaitu penyediaan fasilitas sekolah yang aman, penguatan manajemen bencana di lingkungan sekolah, serta pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Melalui pembelajaran yang interaktif, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan mengamati risiko serta membangun budaya keselamatan di lingkungan sekolah.

Selain itu, rangkaian kegiatan juga mendukung implementasi 10 Langkah SPAB, khususnya dalam meningkatkan kapasitas warga sekolah, melakukan identifikasi ancaman dan kerentanan, mengenali sumber daya yang tersedia, serta mendorong penyusunan lingkungan belajar yang lebih aman. Hasil identifikasi yang dilakukan siswa dapat menjadi masukan awal bagi sekolah dalam menyusun rencana tindak lanjut, seperti pemasangan jalur evakuasi, penambahan rambu keselamatan, pengamanan perabot, hingga pelaksanaan simulasi evakuasi secara berkala.

Melalui kegiatan ini, PSBA UGM berharap pendidikan kebencanaan tidak berhenti pada pemberian materi di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anak-anak mampu mengenali risiko di sekitarnya, memahami cara melindungi diri, dan berani menyampaikan temuan untuk memperbaiki lingkungan sekolah, maka mereka telah menjadi agen perubahan dalam membangun sekolah yang lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi bencana di masa depan.

Penulis: Irfan

Tags: SDG 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan SDG 13 : Penanganan Perubahan Iklim SDG 4 – Pendidikan Berkualitas

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

PSBA UGM Gelar FGD I Penyusunan Naskah Akademik Penguatan Kelembagaan Pusdalops PB BPBD Kabupaten Bantul

Rilis Berita Wednesday, 22 July 2026

PSBA UGM menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) I sebagai bagian dari proses penyusunan Naskah Akademik Penguatan Kelembagaan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Bantul.

PSBA UGM Dukung Penguatan Kesiapsiagaan Bencana melalui MPLS di SMA Masa Depan, Sleman

RilisRilis Berita Wednesday, 15 July 2026

PSBA UGM menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMA Masa Depan, Sleman. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (15/7) pukul 10.15–11.45 WIB ini mengangkat tema Mitigasi Bencana Banjir, Simulasi […].

PSBA UGM Hadir dalam Forum Konsultasi Publik BPBD Sleman untuk Penguatan Standar Pelayanan Kebencanaan

Rilis Berita Wednesday, 15 July 2026

PSBA UGM turut berpartisipasi dalam Forum Konsultasi Publik Penyusunan Standar Pelayanan yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman di Ruang Rapat Op Room Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (PMK), Senin (13/7).

PSBA UGM dan SMP Alkarima Boarding School Perkuat Kesiapsiagaan Siswa melalui Edukasi Gempa Bumi

Rilis Berita Monday, 22 June 2026

PSBA UGM bersama Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) Daerah Istimewa Yogyakarta berkolaborasi meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Sebanyak 122 siswa SMP Alkarima Boarding School mengikuti edukasi kebencanaan bertema gempa […].

Recent Posts

  • PSBA UGM Gelar FGD I Penyusunan Naskah Akademik Penguatan Kelembagaan Pusdalops PB BPBD Kabupaten Bantul
  • Kolaborasi PSBA UGM dan BPBD Kabupaten Kediri Perbarui Kajian Risiko Bencana 2026–2030
  • PSBA UGM Dukung Penguatan Kesiapsiagaan Bencana melalui MPLS di SMA Masa Depan, Sleman
  • PSBA UGM Hadir dalam Forum Konsultasi Publik BPBD Sleman untuk Penguatan Standar Pelayanan Kebencanaan
  • Bermain hingga Identifikasi Bahaya, PSBA UGM Ajak Siswa SD Tumbuh 2 Membangun Budaya Siaga Bencana
Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Bencana UGM

jl Mahoni C 16 Bulaksumur, Yogyakarta, 55284
Phone/fax 0274-548812
email: psba@ugm.ac.id

© 2025 PSBA Universitas Gadjah Mada