PSBA UGM dan BPBD Kabupaten Kediri menggelar Rapat Laporan Pendahuluan Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Kediri Tahun 2026–2030 pada Rabu (16/7) di Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kediri. Kegiatan ini menjadi tahapan awal penyusunan dokumen KRB yang akan menjadi acuan Pemerintah Kabupaten Kediri dalam upaya penanggulangan dan pengurangan risiko bencana selama lima tahun ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa penyusunan dokumen KRB kali ini merupakan pembaruan yang ketiga. Menurutnya, pembaruan diperlukan karena berbagai perubahan kondisi di lapangan, terutama perubahan penggunaan lahan yang memengaruhi pola ancaman bencana di Kabupaten Kediri.
“Penyusunan dokumen KRB di Kabupaten Kediri ini sudah ketiga kalinya. Akan tetapi, banyak perubahan yang terjadi di lapangan, terutama perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada pola banjir. Dulu banjir berada di barat sungai, sekarang bergeser ke timur sungai. Potensi banjir bandang juga berpindah ke bagian timur karena adanya alih fungsi lahan yang besar. Karena itu, kita perlu memetakan kembali wilayah yang memiliki risiko bencana agar upaya penanggulangan dapat dilakukan secara efektif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dokumen KRB akan menjadi acuan pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan bencana sekaligus menjadi salah satu indikator kinerja utama (IKU) Bupati. Oleh karena itu, penyusunannya memerlukan keterlibatan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) karena penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab BPBD.
Sementara itu, Kepala PSBA UGM, Dr. rer.nat Muhammad Anggri Setiawan, S.Si.,M.Si., menekankan bahwa penyusunan Kajian Risiko Bencana memerlukan kolaborasi lintas disiplin agar mampu menggambarkan risiko bencana secara komprehensif.
“Ancaman bencana sulit diprediksi karena alam memiliki algoritmanya sendiri, sedangkan manusia hanya dapat membaca pola-polanya. Karena itu, penyusunan dokumen risiko bencana memerlukan kolaborasi multidisiplin, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun geografi. Momen-momen tenang seperti ini sangat penting untuk membangun koordinasi, memperjelas pembagian peran, dan menyempurnakan data agar daerah lebih siap menghadapi bencana,” ujarnya.
Pada sesi pemaparan, perwakilan tim penyusun yang terdiri dari Dr. rer.nat Muhammad Anggri Setiawan, S.Si.,M.Si., Dr. Nugroho Christanto, S.Si.,M.Si., Galih Aries Swastanto, M.Sc., dan Aan Seftiyan, M.Sc. menjelaskan bahwa karakteristik kebencanaan Kabupaten Kediri dipengaruhi oleh kondisi geologi Gunung Wilis, Gunung Kelud, serta keberadaan sejumlah patahan yang berpotensi memicu berbagai jenis bencana. Selain banjir, banjir bandang, dan longsor yang kerap terjadi, wilayah ini juga memiliki potensi gempa bumi, angin kencang, hingga likuefaksi. Tim penyusun juga menjelaskan bahwa dokumen KRB nantinya akan menghasilkan data spasial yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai OPD dalam mendukung perencanaan pengurangan risiko bencana.
Diskusi berlangsung dengan melibatkan BPBD, Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta OPD lainnya. Sejumlah isu strategis yang dibahas meliputi penambahan jenis ancaman bencana, pemetaan kerentanan likuefaksi, integrasi kegagalan teknologi dan kejadian luar biasa (KLB) penyakit dalam kajian risiko, serta penyusunan rekomendasi berdasarkan akar permasalahan kebencanaan. Tim penyusun menjelaskan bahwa proses penyusunan akan mengacu pada pedoman BNPB dan dilengkapi dengan validasi lapangan melalui participatory mapping bersama pemerintah desa.
Selain itu, rapat juga menyepakati kebutuhan data yang akan dihimpun dari berbagai OPD, mulai dari data kependudukan, penggunaan lahan, fasilitas kesehatan, infrastruktur, hingga sejarah kejadian bencana. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan peta bahaya, peta risiko, matriks risiko tingkat desa, serta data kapasitas daerah. Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Kediri Tahun 2026–2030 diharapkan dapat menjadi acuan bersama dalam mendukung upaya penanggulangan bencana yang lebih terarah, berbasis data, dan kolaboratif.
Penulis: Ratih