Pemerintah Kota Salatiga melalui BPBD bekerja sama dengan PSBA UGM menyelenggarakan kegiatan Table Top Exercise (TTX) atau gladi ruang untuk menguji dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) Cuaca Ekstrem Kota Salatiga Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Kaloka, Lantai 4 Gedung Sekretariat Daerah Kota Salatiga pada Kamis (6/11). TTX ini menjadi rangkaian akhir dari serangkaian proses penyusunan dokumen renkon cuaca ekstrem.
Penyusunan dokumen ini sebelumnya telah didampingi secara intensif oleh tim PSBA UGM. Selama proses tersebut, PSBA UGM dan BPBD Kota Salatiga telah melaksanakan tiga kali Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh OPD, komunitas kebencanaan, serta lembaga non-OPD di Kota Salatiga. Ketiga FGD ini berfokus pada identifikasi ancaman, analisis risiko, serta pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing lembaga dalam menghadapi bencana cuaca ekstrem. Setelah melalui proses konsultasi teknis dan asistensi ke BNPB, dokumen renkon kemudian difinalisasi dan diajukan untuk disahkan oleh pemerintah kota.
Dokumen ini secara resmi disahkan dan ditandatangani oleh Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, didampingi Wakil Wali Kota Salatiga, Nina Agustina. Penandatanganan tersebut menandai bahwa dokumen ini telah menjadi acuan resmi dan dasar kerja bagi seluruh OPD dan lembaga terkait di Kota Salatiga dalam menghadapi dan menangani bencana cuaca ekstrem. Dengan demikian, dokumen renkon bukan hanya berfungsi sebagai panduan operasional, tetapi juga sebagai instrumen koordinasi lintas sektor. Penyelenggaraan TTX kali ini memiliki konteks yang sangat relevan, mengingat pada 3–4 November 2025 Kota Salatiga baru saja dilanda peristiwa angin puting beliung yang menyebabkan kerusakan di sejumlah titik wilayah. Berdasarkan data BPBD Kota Salatiga per 5 November 2025 pukul 13.00 WIB, terdapat setidaknya 87 laporan masyarakat terkait kejadian pohon tumbang, atap rumah rusak, serta gangguan jaringan listrik akibat angin kencang. Kejadian tersebut menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk segera menguji efektivitas dokumen renkon yang baru disusun agar dapat digunakan secara optimal pada situasi nyata.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga, Roy Anjar Miftachul, membuka kegiatan TTX dengan menekankan pentingnya dokumen Renkon Cuaca Ekstrem sebagai panduan teknis dalam menghadapi bencana. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa gladi ruang ini bertujuan untuk menguji sejauh mana dokumen renkon dapat diaplikasikan dalam situasi darurat serta menilai efektivitas mekanisme koordinasi antarinstansi. Menurutnya, hasil evaluasi dari kegiatan TTX akan menjadi dasar untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana yang serupa di masa mendatang.
“Apalagi beberapa hari lalu kita baru mengalami kejadian angin puting beliung. Gladi lapang sebenarnya sudah berjalan, dan hari ini kita fokus pada evaluasi pelaksanaannya,” ujar Roy.
Sementara itu, Galih Aries Swastanto dari PSBA UGM yang menjadi salah satu narasumber TTX menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menguji implementasi dokumen renkon dalam konteks simulasi penanganan bencana cuaca ekstrem. TTX menjadi sarana bagi seluruh pihak yang terlibat untuk memahami peran dan mekanisme koordinasi lintas sektor, mulai dari proses penerimaan informasi peringatan dini, pengambilan keputusan, hingga pelaksanaan tindakan darurat di lapangan.
“Mengingat beberapa hari lalu sudah terjadi bencana cuaca ekstrem, kegiatan hari ini kami arahkan lebih banyak pada evaluasi pelaksanaan penanganan bencana yang baru saja terjadi,” ujar Galih. Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran dari kejadian aktual untuk memperkuat kesiapsiagaan ke depan.
Muhamad Irfan Nurdiansyah dari PSBA UGM menambahkan bahwa berdasarkan hasil kajian dan FGD, karakteristik ancaman bencana cuaca ekstrem di Kota Salatiga menunjukkan pola musiman yang cukup jelas. Berdasarkan catatan historis dan hasil analisis, periode bulan September hingga November merupakan masa dengan potensi tertinggi terjadinya angin puting beliung, hujan es, dan petir. Potensi yang sama juga dapat muncul kembali pada bulan Maret hingga Mei, ketika perubahan cuaca disertai peningkatan kelembapan udara dan aktivitas konvektif.
“Dengan adanya TTX hari ini dan pembelajaran dari kejadian beberapa waktu lalu, harapannya Kota Salatiga dapat semakin siap menghadapi ancaman bencana cuaca ekstrem di masa mendatang,” ujar Irfan.
Kegiatan TTX melibatkan OPD, TNI/Polri, organisasi masyarakat, dan lembaga non-pemerintah untuk mensimulasikan penanganan bencana cuaca ekstrem, mulai dari deteksi dini hingga pemulihan. Peserta diminta merespons skenario sesuai peran dalam dokumen renkon, sehingga dapat dievaluasi kesiapan koordinasi, komunikasi, dan logistik antarlembaga. Selain menguji dokumen, TTX juga menjadi sarana pembelajaran bersama untuk memperkuat kapasitas daerah. Hasilnya akan digunakan untuk menyempurnakan Renkon Cuaca Ekstrem dan meningkatkan koordinasi lintas instansi.
Langkah BPBD Salatiga bersama PSBA UGM dalam menyusun dan menguji renkon menunjukkan keseriusan pemerintah daerah membangun sistem penanggulangan bencana berbasis perencanaan. Upaya ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menyiapkan dokumen renkon sesuai karakteristik ancaman masing-masing, sehingga daerah-daerah di Indonesia dapat lebih siap dan tangguh menghadapi meningkatnya risiko bencana.
Penulis: Irfan
Editor: Ratih