PSBA UGM berpartisipasi dalam Lokakarya Integrasi Program Desa Tangguh Bencana (DESTANA) dengan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan World Food Programme (WFP) pada 4-5 Agustus 2026 di Hotel Gaia Cosmo, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi forum multipihak untuk memperkenalkan sekaligus menelaah panduan fasilitator DESTANA yang telah diselaraskan dengan prinsip dan pendekatan AMPD. Lokakarya di Yogyakarta melibatkan perwakilan dari 50 lembaga dan organisasi, mencakup instansi pemerintah, BPBD, lembaga teknis, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, forum pengurangan risiko bencana, organisasi masyarakat sipil, kelompok masyarakat, media, serta unsur swasta.
Integrasi AMPD ke dalam DESTANA merupakan bagian dari penguatan pendekatan penanggulangan bencana yang semakin proaktif dan antisipatif. Dalam kerangka kegiatan, AMPD ditempatkan sebagai pendekatan yang mendorong tindakan sebelum bencana terjadi dengan memanfaatkan informasi peringatan dini yang andal. Pendekatan tersebut dipandang strategis untuk memperkuat DESTANA sebagai salah satu platform penguatan kapasitas masyarakat di tingkat desa dan kelurahan, khususnya dalam mengenali risiko, mengorganisasi sumber daya, serta menjalankan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan secara mandiri dan berkelanjutan.
Pada hari pertama, peserta memperoleh pengantar mengenai DESTANA serta penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana (PB-PRB) dari BNPB, pengantar AMPD dari WFP, serta pengantar panduan fasilitator. Kegiatan kemudian dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) pertama yang membedah tiga dokumen awal, yaitu Panduan Konsep Penanggulangan Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana untuk DESTANA, Panduan Pengkajian Risiko Bencana Partisipatif dan Peta Risiko Bencana, serta Panduan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Rencana Aksi Komunitas Desa/Kelurahan.
Rangkaian pembahasan berlanjut pada hari kedua melalui dua sesi FGD. FGD kedua membahas Panduan Penyusunan Pengembangan Sistem Peringatan Dini Inklusif Desa/Kelurahan, Panduan Penyusunan Rencana Evakuasi Desa/Kelurahan, dan Panduan Penyusunan Rencana Kontingensi Desa/Kelurahan. Sementara itu, FGD ketiga membahas Panduan Pembentukan Keluarga Tangguh Bencana (KATANA), Panduan Latihan Kesiapsiagaan Desa/Kelurahan, serta Panduan Integrasi Penanggulangan Bencana dalam Perencanaan Pembangunan Desa/Kelurahan. Pembahasan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut sebagai bagian dari upaya memastikan hasil lokakarya dapat diterjemahkan ke dalam proses implementasi.
Secara substantif, sembilan panduan tersebut membentuk rangkaian yang saling terhubung dalam penguatan ketangguhan berbasis komunitas. Proses dimulai dari pemahaman konsep dan konteks risiko, pengkajian risiko secara partisipatif, serta penyusunan rencana penanggulangan bencana dan rencana aksi komunitas. Tahapan tersebut kemudian diperkuat melalui sistem peringatan dini, perencanaan evakuasi dan kontingensi, kesiapsiagaan pada tingkat keluarga, pelaksanaan latihan, hingga integrasi penanggulangan bencana ke dalam perencanaan pembangunan desa dan kelurahan. Keterhubungan antarpanduan menjadi penting agar pengurangan risiko bencana tidak berhenti pada penyusunan dokumen, melainkan dapat menjadi proses yang operasional, partisipatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai salah satu unsur akademik yang diundang dalam kegiatan tersebut, PSBA UGM turut terlibat dalam proses diskusi dan telaah panduan bersama para pemangku kepentingan. Forum multipihak memberikan ruang untuk mempertemukan perspektif kebijakan, keilmuan, fasilitasi komunitas, serta pengalaman implementasi di lapangan. Proses tersebut penting untuk menguji kejelasan substansi, keterhubungan antartahapan, serta relevansi panduan dengan beragam kondisi desa dan kelurahan yang memiliki karakter ancaman, kapasitas, dan kebutuhan yang berbeda.
Lokakarya ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan implementasi DESTANA yang lebih responsif terhadap perkembangan risiko, sekaligus mendorong penerapan AMPD secara kontekstual di tingkat komunitas. Melalui panduan yang semakin aplikatif dan koordinasi lintas sektor yang lebih kuat, upaya kesiapsiagaan diharapkan mampu bergerak lebih awal berdasarkan informasi risiko dan peringatan dini, sehingga masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengurangi potensi dampak sebelum bencana terjadi.